www.wisatabaharilamongan.net
-->

CONTOH PROPOSAL KOMUNIKASI

I. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Pemilihan Umum di Indonesia yang paling dikenal sebagai Pemilihan Umum paling demokratis adalah Pemilu pada tahun 1955. Pemilihan Umum di bawah rezim Soeharto yang pernah berkuasa selama 32 tahun dirasakan oleh rakyat Indonesia sebagai Pemilihan Umum yang tidak demokratis karena berbagai kecurangan dan pelanggaran terhadap asas LUBER (Langsung Umum, Bebas, dan Rahasia). Kondisi tidak demokratis atau tidak LUBERnya Pemilihan Umum Orde Baru tersebut tidak berlangsung sepanjang masa, sebab tepat tanggal 21 Mei 1998 Soeharto akhirnya mengundurkan diri dari kursi kepresidenan dan menyerahkan mandatnya pada Prof. DR. Ing. B.J. Habibie, yang selanjutnya sebagai pemerintahan transisi mempunyai tugas utama untuk menyelenggarakan Pemilihan Umum. Sesuai dengan UU No. 3/1999 tentang Pemilihan Umum, pemerintah Habibie berketetapan untuk menyelenggarakan Pemilihan Umum pada 7 Juni 1999. Proses Pemilihan Umum di bawah pemerintahan transisi itu untuk pertama kalinya berhasil diselenggarakan dengan demokratis, jujur, adil, luber, dan aman. Inilah Pemilu yang dapat berlangsung demokratis setelah Pemilu 1955 di Indonesia.
Pada Pemilu tersebut banyak kontestan Pemilihan Umum yang terlibat di mana partai-partai politik peserta Pemilihan Umum bermunculan seperti jamur di musim hujan. Betapa pentingnya Pemilihan Umum yang akan diselenggarakan saat itu. Dalam Pemilihan Umum pertama pasca Orde Baru, rakyat punya kekuasaan untuk “memasang dan membongkar pemerintahan” istilah ilmiahnya to hire and fire the government. Coblosan yang dilakukan pemilih dibilik suara pada hari pemilihan itu akan menjadi suatu tahapan dari pembangunan kekuasaan negara yang dihasilkan dengan cara-cara demokratis tanpa konflik, kecurangan-kecurangan dan bahkan tanpa pertumpahan darah.
Di tangan pemilih pada Pemilihan Umum inilah sebuah bangunan kekuasaan yang demokratis bisa terbentuk dan sebaliknya ditangan para pemilih itu pulalah sebuah bangunan demoratis juga bisa gagal berdiri. Kesemuanya itu tergantung pada pemilihan umum yang diselenggarakan pada saat itu.
Jajak pendapat yang dilakukan di tahun itu juga terhadap lebih dari 2.000 responden di seluruh Indonesia ini menyebutkan, hanya kurang dari separuh responden yang percaya pemilihan umum akan membuat situasi Indonesia berbeda dari sebelumnya (40%). Selebihnya menganggap keadaan akan sama saja (33%) atau bahkan tidak yakin akan ada perubahan selepas pemilihan umum (27%). Jajak pendapat tersebut juga menyatakan bahwa 58% responden menyatakan bahwa pemilihan umum tahun 1999 tidak jujur dan adil dan hanya 4% yang menyatakan bahwa pemilihan umum yang baru lalu itu berlangsung dengan jurdil. Jajak Pendapat tersebut juga menyatakan bahwa tidak semua responden saat itu sepakat bahwa pemilihan umum itu akan berlangsung jujur dan adil. Paling tidak, mereka yang percaya dan tidak percaya bahwa pemilihan umum bisa jujur berada pada posisi fifty-fifty. Bahkan, dibandingkan dengan pemilihan umum dua tahun sebelumnya, tingkat kepercayaan itu hanya terdongkrak 14 persen. Meski demikian, menurut jajak pendapat itu, hampir semua responden berniat memilih dalam pesta demokrasi tersebut. Artinya mereka tidak mau menjadi golput.1
Layaknya sebuah Pemilu manapun, penyelenggaraan Pemilihan Umum Indonesia yang dirancang secara serius dengan memperhatikan asas demokrasi seperti LUBER dan JURDIL, namun masih juga ada keyakinan atau sinyalemen bahwa politik uang bisa menjadi salah satu contoh bagaimana kecurangan pemilihan umum masih terjadi. Dalam spektrum politik yang lebih luas, sikap realistis dari masyarakat pemilih yang terdesak karena kebutuhan ekonomi dan kurang pengetahuan politiknya itu menjadi sesuatu yang wajar jika mereka menerima suap dari partai yang menjalankan pemilu dengan cara money politic. Dalam kondisi proses kampanye yang tidak sehat semacam ini, ternyata masih ada partai-partai yang lebih mengedepankan manajemen informasi dalam upayanya memenangkan pemilihan umum tersebut. Pemilihan umum tahun 1955 mungkin bisa dijadikan contoh, meski pemilihan umum tersebut adalah Pemilu yang pertama dalam sejarah Indonesia namun sering disebut-sebut sebagai pemilihan umum yang paling fair. Pemilu pada masa 1955 ataupun 1999, dan bahkan Pemilu 2004 kini masih bisa ditemui ada Partai Politik yang dalam kampanye pemenangannya dilakukan dengan cara mengedepankan manajemen informasi, bukannya cara suap. Salah satu kiat dari manajemen informasi tersebut adalah dengan cara memperkuat jaringan para opinion leader di tingkat basis-basis pemilih.
Opinion leader ini penting tidak saja dimanfaatkan dalam rangka memobilisir massa pemilih agar mencoblos partainya, namun juga terdapat fungsi-fungsi lain semisal memberikan informasi kepada masyarakat banyak yang masih belum tahu tentang teknis dan hal-hal tata cara pemilihan umum. Utamanya pada saat mereka harus terdaftar dan memiliki kartu pemilih agar bisa ikut mencoblos. Sebagian besar mereka menyangka pemilihan umum dilakukan seperti cara-cara yang sudah-sudah. Peran opinion leader partai adalah memberikan masukan informasi agar dapat dipastikan para pemilih ini tahu dengan benar di mana mereka harus terdaftar, kapan menerima kartu pemilih, dan sebagainya. Pemilih, misalnya, menyebut Kantor Kepala Desa atau Ketua RT, padahal dalam pemilihan umum kali ini pendaftaran pemilih dilakukan oleh Petugas Pendaftaran Pemilih, yang anggotanya tidak harus aparat birokrasi. Perubahan-perubahan mendasar dalam undang-undang pemilihan umum juga masih merupakan sesuatu yang asing ditelinga masyarakat pemilih.
Pemilihan umum 2004 sebenarnya lebih terasa maju dibanding yang sudah-sudah ini ditunjukkan dengan berbagai perangkat tehnologi informasi dari Komite Pemilihan Umum Pusat hingga Kecamatan di seluruh Indonesia. Hal ini dibarengi dengan berbagai persiapan dari partai-partai politik kontestan yang akan bersaing, mulai dari penggalangan dana, penggalangan massa pendukung, hingga promosi/kampanye partai. Harapan tumbuhnya iklim demokrasi sebagai jalan menuju peralihan kekuasaan secara demokratis dan didapatkan pemimpin negara yang terbaik, sehingga pemulihan krisis ekonomi ditumpahkan pada pemilihan umum. Untuk bisa jadi harapan pemulihan Indonesia, pastilah pemilihan umum harus disiapkan dengan matang, terutama karena banyak aturan main yang berbeda dibandingkan dengan pemilihan umum terdahulu. Misalnya, pemilih haruslah terdaftar jika belum maka secara aktif mendatangi tempat pendaftaran pemilih. pemilih harus memiliki Kartu Pemilih, atau setelah mencoblos, jari telunjuk pemilih dicelup tinta anti luntur selama tiga hari, untuk mencegah pencoblosan ganda. Di sinilah peran distribusi informasi pada massa pemilih mengambil peranan yang teramat penting. Dengan demikian, maka Opinion Leader ada dan dibentuk dalam rangka menyebarkan informasi kepada masyarakat pemilih tentang segela hal yang berkaitan dengan Pemilihan Umum 2004.

2. Perumusan Masalah
Adanya Pemilihan Umum Legislatif pada tahun 2004 dan eksistensi Partai Lama yang masih tetap mendominasi serta munculnya Partai-Partai Baru yang berusaha memperkenalkan diri pada pemilih, telah menjadi fenomena keajaiban politik di mana Partai Demokrat sebagai Partai Baru dapat menduduki tempat 5 Besar dalam Pemilu 2004. Kampanye yang dilakukan semua Partai Politik tidak seluruhnya dipahami konstituen, pada peran inilah Opinion Leader dibutuhkan. Dari permasalahan di atas, maka dapatlah dirumuskan permasalahan tersebut sebagai berikut:
“Sejauh manakah peran Opinion Leader dalam menyebarkan informasi Partai Demokrat pada masyarakat pemilih di Surabaya Timur pada Pemilu 2004”.

3. Tujuan Penelitian
Secara kelembagaan penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Program Strata I Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya, tetapi apabila mengacu pada perumusan masalah di atas, maka penelitian ini tujuannya adalah sebagai berikut di bawah ini:
a. Ingin mengetahui peran Opinion Leader dalam Pemilu 2004.
b. Ingin mengidentifikasi cara informasi menyebar melalui Opinion Leader.
c. Ingin mengetahui Partai Demokrat melalui Opinion Leader.
d. Ingin mengidentifikasi masyarakat pemilih di Surabaya Timur.
e. Ingin mengetahui Pemilu 2004.

4. Kerangka Teori/Landasan Berpikir
a. Pemilihan Umum
Menurut ilmu Politik, Pemilihan Umum adalah proses penyampaian suara/pendapat dari rakyat untuk menentukan penyelenggaraan sebuah negara sebagai manifestasi dari kekuasaan dan kedaulatan tertinggi yang berada di tangan rakyat.
Dalam ilmu politik, dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum, akan tetapi umumnya berkisar pada dua prinsip pokok, yaitu:
a. single-member constituency (satu daerah pemilihan memilih satu wakil; biasa disebut Sistem Distrik),
b. multy-member constituency (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil; biasanya dinamakan Proportional Representation atau Sistem Perwakilan Berimbang).2

Di dalam Pemilu ini rakyat menentukan sikapnya dengan cara memberi phunish dan reward (hukuman dan penghargaan). Bagi penyelenggara negara yang terbukti atau dianggap baik oleh rakyat akan mendapatkan reward berupa dipilih kembali oleh rakyat, tetapi bagi penyelenggara negara yang terbukti atau dianggap tidak baik akan mendapatkan phunish berupa tidak dipilih lagi oleh rakyat.
Kegiatan seseorang dalam partai politik merupakan suatu bentuk partisipasi politik. Partisipasi politik mencakup semua kegiatan sukarela melalui mana seseorang turut serta dalam proses pemilihan pemimpin-pemimpin politik dan turut serta – secara langsung atau tak langsung – dalam pembentukan kebijakan umum. Kegiatan-kegiatan ini mencakup kegiatan memilih dalam pemilihan umum; menjadi anggota golongan politik seperti partai, kelompok penekan, kelompok kepentingan; duduk dalam lembaga politik seperti Dewan Perwakilan Rakyat atau mengadakan komunikasi dengan wakil-wakil rakyat yang duduk dalam badan itu; berkampanye, dan menghadiri kelompok diskusi, dan sebagainya. (kebalikan dari partisipasi politik adalah apati. Seseorang dinamakan apatis (secara politik) jika dia turut serta dalam kegiatan-kegiatan tersebut di atas.3


b. Partai Politik
Secara umum dapat dikatakan bahwa Partai Politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik – (biasanya) dengan cara konstitusional – untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.4

Dari paparan Miriam Budiardjo diatas, dapatlah disimpulkan bahwa, Partai Politik adalah sebuah pra-sarana yang digunakan oleh rakyat untuk melakukan mobilisasi sumber-sumber (seperti: modal, manusia, informasi, legitimasi, legalitas, dan sebagainya), pendidikan/kaderisasi (seperti: ideologi, kepemimpinan dan keorganisasian), inventarisasi dan distribusi aspirasi, dan sebagai sarana untuk mewakili kehendak rakyat dalam partisipasi penentuan kebijakan dan penyelenggaraan negara.

c. Komunikasi
Komunikasi pada umumnya diartikan sebagai hubungan atau kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan masalah hubungan ada pula yang mengartikan saling tukar menukar pikiran atau pendapat.
Wilbur Schramm menyatakan bahwa kata communication itu berasal dari kata latin communis yang berarti common (sama). Dengan demikian apabila kita akan mengadakan komunikasi maka kita harus mewujudkan persamaan antara kita dengan orang lain.
Ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari tentang pernyataan manusia dengan menggunakan lambang-lambang yang berarti (meaningfull simbols). Dengan lambang-lambang yang berarti tersebut dimaksudkan bahwa lambang-lambang tersebut diartikan sama baik oleh komunitor maupun komunikan.
Sifat dari komunikasi adalah berupa lisan, tulisan, dan audio visual yang dilakukan dengan melalui 2 cara yakni, direct (langsung) dan indirect (tidak langsung).
Di dalam ilmu komunikasi di bagi antara lain (1) Bentuk Spesialisasi, (2) Media, dan (3) Effek. Dari ketiga hal tersebut yang akan diambil adalah yang ke pertama yakni Bentuk Spesialisasi, di mana bentuk spesialisasi terbagi lagi atas komunikasi persona, komunikasi kelompok, dan komunikasi massa.
Dalam kaitan dengan penelitian ini, maka komunikasi massa inilah yang menjadi kajian selanjutnya di mana pada komunikasi massa terdapat advertaizing, pameran, international communication, publicity, public speaking, jurnalistik, public relations, penerangan, agitasi, dan propaganda.
Menurut Djoenaesih S. Sunarjo, dikatakan bahwa:
“untuk komunikasi massa sebagian besar dilakukan dengan cara tidak langsung, sebabnya ialah karena komunikasi itu pada umumnya ditujukan kepada sasaran yang jauh dan atau tersebar luas. Karenanya maka komunikasi tidak langsung ini selalu disampaikan melalui media. Maka media ini pada umumnya terdiri dari 2 jenis, yaitu media umum dan media massa”.5

Media yang digunakan dalam penyampaian pesan dari komunikasi massa adalah seperti Pers, Radio, Film, dan TV.

d. Informasi
Informasi di dalam tahapannya terdiri dari Sumber Informasi, Cara Informasi Menyebar, dan Khalayak Penerima Informasi merespon.
Sumber informasi
Sumber informasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dinyatakan bahwa:
“sumber diartikan sebagai tempat keluar. Berarti juga sebagai tempat keluar atau dari mana sesuatu berasal. Kata informasi merupakan suatu istilah yang tidak asing dalam segala bidang kegiatan. Termasuk dalam kegiatan komunikasi, kata informasi merupakan unsur yang amat berperan. Sebab informasi merupakan menu, bahan utama dalam kegiatan komunikasi. Pesan-pesan yang diterima seseorang melalui media yang dikemas dengan cara-cara tertentu merupakan informasi.6

Proses informasi menyebar
Informasi mengalir dari media massa kepada opinion leaders dan dari opinion leaders kepada khalayak massa diungkapkan dalam hipothesis two step flow of communication.
Proses informasi menyebar dengan mendasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Otto Larsen dan Richard J tentang Diffusi sebuah berita atas peristiwa tertentu dapat disimpulkan bahwa:
“Pertama, pentingnya kelompok primer dalam komunikasi personal mengenai peristiwa tertentu. Orang yang pertama kali mendengar berita secara lisan biasanya memperoleh berita itu dari anggota keluarganya yang lain atau teman sekerjanya. Kedua, terdapat bukti yang kuat bahwa orang tidak hanya sekadar mendengar berita dari komunikasi massa; mereka membicarakannya dengan teman-temannya, keluarganya, tetangganya, dan sesama pekerja lainnya. Setiap orang mendengar berita tersebut biasanya membicarakan kepada tiga orang lainnya.7
Dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa orang-orang yang mendapat informasi dari media massa akan meneruskannya kepada orang lain.
Penerima Informasi
Penerima Informasi ini biasanya seringkali disebut dengan komunikan atau jika dalam komunikasi massa disebut sebagai khalayak. Khalayak di sini tidak dapat dideteksi karena sifatnya anonim, heterogen, dan luas sekali.

e. Opinion Leader
Pesan-pesan komunikasi massa tidak selamanya dapat menjangkau seluruh anggota khalayak secara langsung, sebagaimana diasumsikan oleh model jarum hipodermis. Kadangkala komunikasi massa merupakan suatu proses yang terdiri dari banyak langkah atau sering disebut multistep process. Mula-mula pesan menjangkau Opinion Leaders (biasanya disebut pula dengan pemuka-pemuka pendapat) dulu, atau orang-orang yang berpengaruh (influentials), yang kemudian meneruskan pesan secara lisan kepada orang-orang yang meminta nasehat kepada mereka atau menggunakan pesan dalam informasi yang mereka teruskan dalam lingkaran pengaruh mereka.
Opinion Leaders tidak perlu merupakan pemimpin-pemimpin formal suatu masyarakat atau orang-orang yang memegang jabatan tertentu berdasarkan prestise sosial. Setiap tingkatan masyarakat agaknya memiliki kelompok pemuka pendapatnya sendiri-sendiri. Misalnya pemuka pendapat politik dapat ditemui pada diri orang-orang yang berada di semua tingkatan pekerjaan.8
Opinion leaders akan dapat diidentifikasi secara mudah dengan cara menanyai seseorang, kepada siapa umumnya mereka akan meminta saran atau bantuan dalam mengambil keputusan tentang berbagai macam masalah.

5. Hipotesa
Di dalam penelitian ini diduga bahwa terdapat hubungan antara peran opinion leader dengan penyebaran informasi tentang Partai Demokrat pada masyarakat pemilih di Surabaya Timur dalam Pemilu 2004.











II. Metode Penelitian
1. Kerangka Konseptual
Kerangka Konseptual ini dimaksudkan untuk mendapatkan pengertian yang sama tentang konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini. Konsep ini digunakan sebagai pedoman melakukan representasi atau simbol-simbol maksud baik itu dalam penulisan laporan penelitian ataupun dalam proses penggalian data penelitian yang diperlukan. Perincian kerangka konseptual dapat diuraikan seperti di bawah ini:


Varibel X = Peran Opinion Leader
Menurut kesimpulan dari paparan C.R. Wright (1974) mengenai opinion leaders, dapatlah dinyatakan di sini oleh peneliti bahwa fungsi dari Opinion Leader dalam komunikasi adalah:
a. Fungsi memimpin dalam memberi empati dan simpati perasaan subyektif, motif, kebutuhan dan perspektif.
b. Fungsi mempengaruhi cara orang lain berpikir dan bertindak.
c. Fungsi acuan untuk menggambarkan obyek dan relasi obyektif antara manusia dengan dunia luar.
d. Sebagai manajemen identitas: menciptakan identitas gambaran diri sebagai identitas individu.

Variabel Y = Penyebaran Informasi.
Menurut Otto Larsen dan Richard J. Hill, (1954:426-443), menyatakan bahwa Informasi mengalir dari media massa kepada opinion leaders dan dari opinion leaders kepada khalayak massa diungkapkan dalam hipothesis two step flow of communication. Dari sini dapatlah diidentifikasi bahwa Penyebaran Informasi sebagai komunikasi yang berlangsung antara Partai Politik sebagai komunikator dengan Konstituen (masyarakat pemilih) sebagai komunikan untuk menekankan sejauhmana persamaan pemahaman dan penerapan nilai-nilai politik yang mereka miliki bersama. Studi inter relasi memusatkan perhatian pada komunikasi antara komunikator dan kominukan dalam satu misi dan visi politik yang sama.
Konsepsional tersebut kalau dibuat gambar adalah sebagai pada halaman berikut:
Gambar : 3
Kerangka Konsepsional







2. Kerangka Operasional
a. Peran Opinion Leader
Indikator dari Peran Opinion Leader adalah:
a. Fungsi Memimpin;
b. Fungsi Pengarah;
c. Fungsi Acuan;
d. Fungsi Identitas.
Dari masing-masing indikator tersebut dapat diukur dengan menggunakan tolak-ukur sebagai berikut :
(1) Fungsi Memimpin : ukuran yang digunakan adalah dapat tidaknya memberikan empati dan simpati dalam hal:
• Perasaan Subyektif konstituen;
• Motif konstituen;
• Kebutuhan konstituen;
• Perspektif konstituen;
(2) Fungsi Pengarah: ukuran yang digunakan adalah dapat tidaknya seseorang pemuka pendapat dalam:
• Mempengaruhi cara konstituen berpikir; dan
• Cara konstituen Bertindak.
(3) Fungsi Acuan: tolak-ukur yang digunakan adalah dapat tidaknya seseorang pemuka pendapat menggambarkan:
• Obyek (Partai Politik), dan
• Relasi obyektif antara konstituen dengan dunia Politik.
(4) Fungsi Identitas; tolak-ukur yang digunakan adalah dapat tidaknya sang pemuka pendapat tersebut dijadikan:
• identitas gambaran diri oleh konstituennya, dan
• sebagai dipakai sebagai identitas individu konstituen.

(1) Efektifitas Penyebaran Informasi
Penyebaran Informasi yang menjadi standar dan tujuan adapun derajat keberhasilannya dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut:
1. Sumber Pesan (Message Source) : Keahlian (Wexpertise), Kelayakan untuk dipercaya (Trustworthiness), dan Kemampuan untuk disukai (Likeability).
2. Isi Pesan (Message Structure) sangat komunikatif dan Aktualitas pesan-pesan.
3. Kesesuaian dengan Kesesuaian dengan Ekonomi (Economy), Sosial (Social), Budaya (Cultural), khalayak massa pemilih (konstituen)
Salah satu instrument yang dipakai dalam penelitian ini adalah angket, yang bertujuan untuk mengetahui pendapat seseorang mengenai suatu hal. Skala yang digunakan dalam penyusunan angket ini adalah skala Likert, yaitu skala yang berisi lima tingkat jawaban yang merupakan skala jenis ordinal, dengan tingkat jawaban sebagai berikut:
1 = Setuju
2 = Cukup
3 = Tidak setuju
Syarat penting yang berlaku pada sebuah angket, yaitu keharusan sebuah angket untuk valid dan reliable. Pengujian validitas dan reliabelitas adalah proses menguji butir-butir pertanyaan tersebut sudah valid dan reliable, jika butir-butir tersebut valid dan reliable, berarti butir-butir tersebut sudah bisa untuk mengukur faktornya.
a. Validitas
Adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto dalam Junaidi, 2000).
Hadi (1991) memberikan batasan validitas sebagai tingkat kemampuan suatu instrumen untuk mengungkap sesuatu untuk menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan instrumen tersebut. Suatu instrumen dikatakan sahih apabila instrumen itu mampu mengukur sesuatu yang hendak diukur.
Jenis validitas yang dugunakan dalam penelitian ini adalah suatu validitas isi. Content Validity atau validitas isi, yaitu suatu alat ukur ditentukan oleh sejauh mana isi alat ukur tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep (Singarimbun dan Effendi, 1989). Menurut Wiener (dalam Junaidi, 2000) validitas isi adalah suatu validitas yang didasarkan pada kerepresentatifan pengukuran. Fokus utama validitas ini adalah pada isi dari butir-butir suatu alat ukur yang digunakan untuk mencerminkan suatu definisi konseptual. Langkah pertama dalam menentukan validitas adalah mendaftar semua dimensi kualitas yang diperkirakan tepat untuk definisi konseptualnya. Pengukuran dilakukan untuk melihat seberapa baik batasan untuk memiliki dimensi-dimensi. Pernyataan yang mencerminkan dimensi dan tepat apabila semua dimensi yang diperlukan ada di sana, maka pengukuran tersebut dapat dianggap sahih dari sudut validitas isi.
Pada penelitian ini selain menggunakan validitas isi, untuk menguji kesahihan alat ukur juga dilakukan dengan mengkorelasikan butir skor total. Hal ini dilakukan untuk melihat indeks diskriminasi aitem.

b. Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, dalam Junaidi, 2000).
Suatu angket dikatakan reliable jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengukuran reliabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan cara One Shot atau diukur sekali saja, di sini pengukuran hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil pertanyaan lain.

3. Tipe Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis, dengan pertimbangan bahwa subyek penelitian yang ditinjau adalah fenomena Efektifitas Penyebaran Informasi tentang Partai Demokrat dan Peran Opinion Leader pada masyarakat pemilih yang dilihat dari keberhasilan Partai Demokrat tersebut memperoleh suara dengan urutan 5 besar dalam kontestan Pemilu.
Pertimbangan yang mendasari digunakannya pendekatan kualitatif-kuantitatif, karena kajian penelitian ini memfokuskan kepada Peran Opinion Leader dalam Penyebaran Informasi sebagai suatu fenomena komunikasi yang sangat membutuhkan kehadiran penelitian kualitatif-kuantitatif karena fenomena ini berkaitan erat dengan sifat unik dari konstituen Partai dan tingkah laku masyarakat pemilihnya itu sendiri. Keunikannya bersumber dari hakikat pemilih sebagai manusia biasa yang memiliki aspek psikologis, aspek sosial, dan aspek budaya, yang mengkaitkan antara informasi yang diterimanya dengan sikap menentukan pilihan.
Dalam penelitian ini ditampilkan angka, penampilan angka tersebut adalah berkisar pada jumlah perolehan suara dari konstituen Partai Politik sebagai kontestan dalam Pemilu sebagai upaya untuk meyakinkan bahwa fenomena penyebaran informasi melalui peran opinion leader kepada masyarakat pemilih betul-betul obyektif dan otentik hasilnya.
Tipe Penelitian ini adalah explanatory reserch, maksudnya penelitian yang ditujukan untuk memberikan penjelasan tentang peran opinion leader sebagai fungsi penyebaran informasi dalam komunikasi politik pada saat kampanye Pemilu 2004 berlangsung. Menurut Singarimbun dan Effendi (1995; 3) penelitian survei adalah “penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok”. Penelitian survey dapat digunakan untuk maksud (1) penjajagan (eksploratif), (2) deskriptif, (3) penjelasan (explanatory atau confirmatory), yakni menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesa; (4) evaluasi, (5) prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan datang, (6) penelitian operasional, dan (7) pengembangan indikator-indikator sosial. Metode survey ini juga untuk memahami segala sesuatu seperti studi deskriptif, riset normatif, atau dalam hal studi kasus, biasanya berusaha untuk menggambarkan sebuah kondisi atau untuk mempelajari status dari sesuatu dan kapan saja yang memungkinkan untuk memperoleh kesimpulan umum yang benar/logis dari fakta yang ditemukan. Dalam hal ini, peneliti akan menggunakan penelitian deskriptif dimana dimaksudkan untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisa data kualitatif “Penelitian deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki menggambarkan, melukiskan subyek/obyek penelitian (seseorang, lembaga masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya” (Nawawi, 1999:63).
Sedangkan Azwar (1998:7) mengemukakan “penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu”. Kemudian menurut Singarimbun (1982:4) “Penelitian deskriptif biasa dilakukan tanpa atau dengan hipotesis yang dirumuskan secara ketat. Ia mengenai hipotesa tetapi tidak akan diuji secara statistik”.
Atas dasar itulah maka penelitian ini akan mendeskripsikan atau menggambarkan secara rinci mengenai fenomena perilaku pemilih dalam Pemilu 2004 terhadap suatu Partai Politik akibat dari penyebaran informasi yang dilakukan oleh Opinion Leader dengan menggunakan kerangka pemikiran sebagai landasan teoritis/pengkajian teoritis, sehingga hasil penelitian ini dapat memperoleh predikat penelitian ilmiah terhadap substansi permasalahannya.

4. Populasi dan Sampel
Sasaran penelitian adalah masyarakat pemilih dalam Pemilu 2004 yang tinggal di daerah Surabaya Timur. Pertimbangan lokasi tersebut dikarenakan peneliti adalah mahasiswa yang belajar di Kampus, sedangkan sebagian besar kampus-kampus di Surabaya berada di Surabaya Timur. Dengan begitu penentuan peta lapangan diperoleh melalui observasi dan wawancara terhadap informan. Informan yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari informan pangkal dan informan kunci.
Selain itu dilakukan juga wawancara bebas dan terbuka dengan sejumlah informan dan dengan masyarakat yang tinggal di Surabaya Timur tersebut.

5. Teknik Pengambilan Sampel
Dilakukan dengan cara kuota sampling, di mana peneliti sebelumnya telah menentukan jumlah dan sasaran calon responden yang dari mereka akan diambil datanya.

6. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Observasi
Metode yang lazim dalam pengerjaan riset adalah mengemukakan pertanyaan-pertanyaan kepada responden. Namun dimungkinkan juga melakukan riset tanpa mengemukakan pertanyaan, melainkan hanya dengan mengamati responden. Ini disebut Observasi.
Observasi sebagai : “pemilihan, pengubahan, pencatatan, dan pengkodean serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme di dalamnya sesuai dengan tujuan-tujuan empiris”.
Metode survey dan metode observasi merupakan metode pengumpulan data primer yang diperoleh secara langsung dari sumber asli dari informan. Data primer dikumpulkan oleh peneliti dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Data yang diperlukan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari pengumpulan berbagai informasi dari informan (sebagai sumber data) dengan menggunakan pedoman wawancara, dan catatan kondisi lapangan yang diperoleh melalui observasi partisipatif. Untuk data sekunder yaitu data dokumentasi yang diperoleh dari berbagai pihak terkait, tokoh masyarakat, hasil penelitian orang lain, dan artikel yang relevan dengan masalah yang diteliti.
Sebelum pengumpulan data penelitian yang sebenarnya, dilakukan terlebih dahulu tahap orientasi, artinya peneliti dengan menggunakan metode observasi partisipatif melakukan pengamatan terhadap subyek penelitian. Tahapan ini dimaksudkan agar kemurnian informan dapat terjaga dengan mendapatkan gambaran yang jelas mengenai fokus penelitian. Pada tahap orientasi, wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat umum dan terbuka, agar memperoleh informasi yang luas mengenai hal-hal yang umum di lapangan. Informasi dari sejumlah informan dianalisis untuk menemukan hal-hal yang menonjol, menarik, penting, dan berguna bagi fokus penelitian. Pada tahap orientasi ini, dilakukan pula penentuan informan pangkal, yang diharapkan dari informan pangkal ini selanjutnya dapat ditunjuk beberapa informan kunci yang kompeten dan dapat memberikan informasi berguna dengan penelitian.
b. Wawancara
Pada tahap kedua ini merupakan kelanjutan dari tahap pertama, karena fokus penelitian yang diharapkan sudah jelas berdasarkan hasil observasi tahap pertama, selanjutnya dilakukan pengumpulan data secara terarah dan lebih spesifik. Observasi partisipatif masih tetap dilakukan, tetapi ditujukan kepada hal-hal yang dianggap ada hubungannya dengan fokus penelitian. Wawancara juga tidak lagi umum, tetapi lebih terstruktur dengan menggunakan depth interview (wawancara mendalam), untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai aspek-aspek penelitian yang diperoleh pada tahap orientasi, yaitu tentang fenomena masyarakat pemilih.
Untuk memperoleh informasi yang mendalam dan akurat wawancara awal dilakukan terhadap informan pangkal sudah ditentukan pada tahap orientasi. Selanjutnya berdasarkan informasi dari informan pangkal, wawancara selanjutnya secara lebih mendalam dilakukan dengan informan kunci yang kompeten dan mempunyai pengetahuan cukup. Berkenaan dengan hal tersebut maka cara pengumpulan data yang digunakan adalah dengan snowball, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan sistem berangkai atau biasa disebut “gethuk tular”. Pada teknik ini kehadiran atau keberadaan orang kunci (keyperson) sangatlah diperlukan untuk membuka jalan dari kegiatan penelitian ini.
c. Kuesioner
Sesuai dengan tujuan penelitian untuk memberikan penjelasan tentang peran opinion leader sebagai penyebar informasi pada masyarakat pemilih, teknik pengumpulan data mempergunakan cara penyebaran kuesioner per-wilayah.
d. Data Kepustakaan
Penelusuran pustaka untuk mempertajam metodologi, memperdalam kajian teoritis dan memperoleh informasi mengenai penelitian sejenis yang telah dilakukan oleh para peneliti lain. Kegiatan ini dilakukan sebelum penyusunan proposal dan menulis laporan penelitian. Mengadakan survey terhadap data yang telah ada, dengan menggali teori-teori yang telah berkembang dalam penelitian sejenis, memperoleh orientasi yang lebih luas dalam permasalahan yang dipilih, serta menghindar terjadinya duplikasi yang tidak diinginkan.



7. Teknik Pengelolaan Data
Teknik pengelolaan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan beberapa tahap:
Tahap pertama, diawali dengan proses klarifikasi data agar tercapai konsistensi, berikut pengelompokkan data sesuai dengan masing-masing topik permasalahan.
Tahap kedua, abstraksi-abstraksi teoritis terhadap informasi di lapangan, dengan mempertimbangkan menghasilkan pernyataan-pernyataan yang sangat memungkinkan dianggap mendasar dan universal.
Tahap ketiga, pengambilan kesimpulan berdasarkan deskripsi yang telah disusun pada tahap kedua, sehingga dapat memberi jawaban atas permasalahan penelitian.

8. Rencana Analisa Data
Rencana analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan analisa data kwantitatif yang dikualitatifkan, dilaksanakan dengan cara melakukan verifikasi hasil analisis data dengan informan yang didasarkan pada simpulan tahap ketiga. Tahap ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahan interpretasi dari hasil wawancara dengan sejumlah informan yang dapat mengaburkan makna persoalan sebenarnya dari fokus penelitian.
Analisa data adalah proses atau kegiatan penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dan ditafsirkan. Pada analisis data, semua data yang terkumpul diolah. Guna memudahkan pengolahan suatu data, maka data-data tersebut diberi kode-kode dalam bentuk bilangan. Kemudian setelah data-data yang berisi kode-kode dalam bentuk bilangan tersebut diolah, selanjutnya diterjemahkan ke dalam bentuk pernyataan-pernyataan. Dengan demikian nilai/score pada akhirnya dikualitatifkan untuk membuat deskripsi (paparan).
Adapun teknik analisa yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara Peran Opinion Leader dengan Efektifitas Penyebaran Informasi pada Masyarakat Pemilih Partai Demokrat adalah uji statistik korelasi Product Moment dari Pearson dengan rumus sebagai berikut:
rxy =
Keterangan :
rxy : Koefisien korelasi antara x dan y
x : Skor tiap item
y : Skor total
x : Jumlah skor tiap-tiap item
y : Jumlah skor total
xy : Hasil kali antara tiap item dengan skor total
N : Jumlah subyek yang diteliti

Karena dalam korelasi tersebut yang dikorelasikan adalah skor butir dengan skor total yang dalam skor total tersebut sudah termasuk skor butir, maka akan terjadi kelebihan bobot atau over estimate, sehingga perlu dikorelasikan dengan menggunakan teknik korelasi bagian total yang rumusnya sebagai berikut:

rpq =
Keterangan:
rpq : Koefisien korelasi bagian total
rtp : Koefisien korelasi product moment
SDx : Standar deviasi skor total
SDy : Standar deviasi skor item

Perhitungan uji kesahihan butir dalam penelitian ini dikerjakan melalui bantuan komputer dengan menggunakan program SPS (Seri Program Statistik) Sutrisno Hadi.
Sebelum dilakukan analisa data, maka dilakukan terlebih dahulu uji prasyarat yang meliputi; uji Normalitas Sebaran dan Uji Linieritas Hubungan.
a. Uji Normalitas Sebaran
Uji ini bertujuan untuk mengetahui kenormalan distribusi sebaran skor ubahan. Apabila terjadi penyimpangan, seberapa jauh penyimpangan tersebut. Uji normalitas sebaran ini menggunakan chi kuadrat (Hadi, 1990) dengan rumus sebagai berikut:
2 =
Keterangan:
2 : Chi kuadrat
fo : Frekwensi obtainer (frekwensi hasil pengamatan)
fe : Frekwensi expected (frekwensi harapan)
Perhitungan Uji Normalitas Sebaran ini menggunakan Seri Program Statistik.

b. Uji Linearitas Hubungan
Uji Linearitas Hubungan ini dilakukan untuk mengetahui Linieritas Hubungan antara Peran Opinion Leader dengan Efektifitas Penyebaran Informasi pada Masyarakat Pemilih Partai Demokrat.
Perhitungan Uji Linieritas Hubungan ini menggunakan Seri Program Statistik Program Uji Linieritas.

III. Lampiran
1. Daftar Pustaka
a. Akhmad Zaini Abar, Kisah Pers Indonesia 1966-1974, LkiS, Yogyakarta, 1995.

b. Ariel Heryanto, DKK, Pers, Hukum, dan Kekuasaan, Bentang Budaya, Yogyakarta, 1994.

c. Ashadi Siregar, Sketsa-Sketsa Media Massa, Bentang Budaya, Yogyakarta, 1995.

d. Bambang Budjono, DKK, Mengapa Kami Menggugat, Yayasan Alumni Tempo, Jakarta, 1995.

e. Bambang Sadono, Penyelesaian Delik Pers secara Politis, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993.

f. David S. Broder, Berita di Balik Berita, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1992.

g. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1988.

h. Didi Primbadi, DKK Tim Wartawan Tempo, Buku Putih Tempo: Pembredelan Itu, Alumni Majalah Tempo, Jakarta, 1994.

i. Djoenasih S. Sunarjo, SU, Pengantar Ilmu Komunikasi (jilid 1), Liberty, Yogyakarta, 1991.

j. Franz-Josef Eilers, Berkomunikasi antar Budaya, Nusa Indah, Flores-NTT, 1995.

k. Gundar Banjarnahor, Wartawan Freelance (Panduan Menulis Artikel untuk Media Cetak dan Elektronik), Galia Indonesia, Jakarta, 1994.

l. Herbert Strentz, Reporter dan Sumber Berita (Persekongkolan dalam Mengemas dan Menyesarkan Berita), Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.

m. Jalaluddin Rakhmat dan Deddy Mulyana, Komunikasi Antar Budaya, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1989.

n. Moeryanto Ginting Munthe, Media Komunikasi Radio, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996.

o. Onong Ucahjana Effendy, Radio Siaran (Teori dan Praktek), Mandar Maju, Bandung, 1990.

p. Rosihan Anwar, Bahasa Jurnalistik dan Komposisi, Pradnya Paramita, Jakarta, 1991.

q. Santoso, DKK, Bredel di Udara (Rekaman Radio ABC, BBC, DW, Nederland, VoA), Institut Studi Arus Informasi, Jakarta, 1996.











2. Kuisioner

Nama: ...................................... (tidak harus diisi)
Domisili: ..............................................................
Daerah Pemilihan: ...............................................

Jawablah soal-soal di bawah ini yang menurut anda benar dengan cara memberikan tanda silang (x).

Peran Opinion Leader:
A. Fungsi Memimpin:
1. Apakah pemuka pendapat anda mengerti Perasaan Subyektif anda?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat
2. Apakah pemuka pendapat anda mengerti Motif politik anda?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat
3. Apakah pemuka pendapat anda mengerti Kebutuhan politik anda?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat
4. Apakah pemuka pendapat anda mengerti Perspektif politik anda?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat

B. Fungsi Pengarah
1. Apakah pemuka pendapat anda dapat mempengaruhi cara anda berpikir?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat
2. Apakah pemuka pendapat anda dapat mempengaruhi cara anda bertindak?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat

C. Fungsi Acuan
1. Apakah pemuka pendapat anda dapat menjelaskan pada anda tentang Partai Politik?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat
2. Apakah pemuka pendapat anda dapat menjelaskan hubungan nyata antara anda dengan dunia Politik?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat

D. Fungsi Identitas
1. Apakah pemuka pendapat anda dapat dijadikan identitas bagi gambaran anda di dunia politik yang anda inginkan?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat
2. Apakah pemuka pendapat anda dapat dijadikan identitas bagi diri anda di dunia politik yang anda inginkan?
a. dapat c. kadang-kadang d. tidak dapat

Penyebaran Informasi
A. Sumber Pesan
1. Apakah pesan yang anda terima tersebut dari sumber yang anda anggap ahli di bidang politik?
a. Ya c. kadang-kadang d. Tidak.
2. Apakah pesan yang anda terima tersebut dari sumber yang anda anggap layakan untuk dipercaya?
a. Ya c. kadang-kadang d. Tidak.
3. Apakah pesan yang anda terima tersebut dari sumber yang anda anggap mampu dan disukai?
a. Ya c. kadang-kadang d. Tidak.

B. Isi Pesan
1. Apakah pesan yang anda terima tersebut anda anggap Aktual?
a. Ya c. kadang-kadang d. Tidak.
2. Apakah pesan yang anda terima tersebut sangat komunikatif ?
a. Ya c. kadang-kadang d. Tidak.

C. Kesesuaian Pesan
1. Apakah pesan yang anda terima tersebut sesuai dengan kondisi ekonomi anda?
a. Ya c. kadang-kadang d. Tidak.
2. Apakah pesan yang anda terima tersebut sesuai dengan kondisi sosial anda?
a. Ya c. kadang-kadang d. Tidak.
3. Apakah pesan yang anda terima tersebut sesuai dengan kondisi budaya anda?
a. Ya c. kadang-kadang d. Tidak.

No comments:

Post a Comment

For yout correction, write your comment in here. Thank you.
(Tulislah komentar anda di sini untuk perbaikan. Terima kasih)

KULIAH