DATANG DAN KUNJUNGI SEKARANG JUGA. WISATA BAHARI LAMONGAN(WBL), Tempat Habiskan Waktu Berlibur Bersama Keluarga atau Orang Terdekat Anda dengan Landscape Terluas dan Panorama Paling Eksotis Dilengkapi Wahana Hiburan Paling Dramatis Sepanjang Pesisir Pantai Jawa Utara
-->

PROPOSAL PDRB/CONTOH 4

BAB IV
PERKEMBANGAN KOTA SURABAYA
DAN PERMASALAHANNYA


Gambaran Umum Kota Surabaya
Dalam struktur perwilayahan Propinsi Jawa Timur, Kota Surabaya ditetapkan sebagai pusat utama Jawa Timur dan merupakan kota orde I. Dengan kecenderungan yang terjadi di Jawa Timur saat ini adalah perkembangan Surabaya sebagai kota utama jauh melebihi kota-kota lain yang berada dalam sub ordinasinya. Hal ini merupakan salah satu indikator tingkat primasi Kota Surabaya terhadap kota-kota lain di Jawa Timur. Fungsi dominan Kota Surabaya adalah sebagai pusat kegiatan komersial, finansial, perdagangan, informasi, administrasi, sosial, dan kesehatan.
Dalam lingkup Gerbangkertosusila, pengembangan Surabaya merupakan bagian dan Surabaya Metropolitan Area (SMA), yang arahan pengembangannya adalah sebagai berikut :
Sebagai pusat kegiatan ekonomi untuk wilayah Jawa Timur, Bali, hingga Kalimantan Timur, yang ditunjang dengan keberadaan Pelabuhan Tanjung Perak.
Sebagai kota orde I yang secara sosio-ekonomi mempengaruhi perkembangan sistem perwilayahan Jawa Timur
Sebagai pusat urban yang menunjang kegiatan sosio-ekonomi wilayah Gerbangkertosusila.
Wilayah Administrasi dan Letak Geografis
Kota Surabaya tercatat sebagai kawasan yang strategis dan penuh dinamika dalam perkembangannya. Wilayah Kota Surabaya terletak pada garis Lintang Selatan antara 70 12’ – 70 21’, dan 1120 36’ – 1120 54’ Bujur Timur. Secara geografis batas Wilayah Kota Surabaya adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Selat Madura
Sebelah Timur : Selat Madura


Sebelah Selatan : Kabupaten Sidoarjo
Sebelah Barat : Kabupaten Gresik
Lebih jelasnya, batas wilayah Kota Surabaya dapat dilihat pada gambar 4.1.
Secara administrasi luas wilayah Kota Surabaya ± 32.637,75 Ha yang terbagi dalam 31 Kecamatan, 163 Kelurahan, 1.298 Rukun Warga, dan 8,338 Rukun Tetangga.





Gambar 4.1. Peta Batas Wilayah Administrasi

























Kondisi Fisik
Sebagian besar kota Surabaya memiliki ketinggian tanah antara 0-10 meter (80,72%) yang menyebar di bagian timur, utara, selatan, dan pusat kota. Pada wilayah lain memiliki ketinggian 10-20 meter dan di atas 20 meter di atas permukaan laut yang umumnya terdapat pada bagian barat kota yaitu di Benowo, Lakarsantri, dan Tandes. Luas wilayah kota Surabaya adalah 32.637,75 Ha. Daya dukung tanah di wilayah Surabaya tidak merata. Untuk wilayah Wonokromo, Sawahan, Genteng, Tegalsari, Gubeng, Tambaksari, Simokerto, Semampir, Pabean Cantikan Krembangan, dan Bubutan, tebal permukaan tanahnya adalah 10-18 meter dan terletak di atas dasar tanah liat. Untuk wilayah di sebelah barat kota didominasi daerah perbukitan dengan struktur tanah liat.
Geologi dan Geohidrologi
Karakteristik geologi kawasan perencanaan tersusun atas dua jenis, meliputi batuan sedimen pleistosin dan endapan aluvium. Jenis batuan ini sangat mempegaruhi ketersediaan air tanah. Biasanya suatu kawasan yang tersusun oleh jenis batuan ini, tidak mempunyai kualitas air tanah yang baik.
Iklim dan Hidrologi
Sebagaimana dengan daerah lain umumnya, maka iklim di Kota Surabaya termasuk iklim tropis. Dimana perubahan iklimnya mengikuti perubahan putaran 2 iklim yaitu musim penghujan dan musim kemarau.
Sedangkan hidrologi di Kota Surabaya di dukung dengan adanya Kali Surabaya sebagai pecahan dari Kali Brantas. Kali Brantas mengalir melalui Kota Mojekerto. Di kota ini Kali Brantas terbagi menjadi dua yakni Kali Porong dan Kali Surabaya yang dimensinya lebih kecil. Di Wonokromo Kali Surabaya terpecah menjadi dua anak sungai yaitu Kali Mas dan Kali Wonokromo. Kali Mas mengalir kearah pantai utara melewati tengah kota sedang Kali Wonokromo kearah pantai timur dan bermuara di selat Madura.
Penggunaan Lahan
Secara fisik, terdapat penambahan luas wilayah Kota Surabaya sebagai akibat terjadinya sedimentasi (tanah oloran) di kawasan pantai Timur Surabaya serta sebuah pulau di pantai utara Surabaya (Pulau Galang). Kondisi tanah oloran menyebabkan perubahan morfologis bentuk pesisir pantai Timur.

Sementara itu perubahan kondisi spasial Kota Surabaya hingga tahun 2001 ini terlihat sangat monumental karena proporsi lahan yang belum terbangun relatif menyusut sangat luar biasa. Di kawasan pantai Timur Surabaya, eksistensi tambak-tambak rakyat dari waktu ke waktu tampak mengalami perubahan gradual oleh perkembangan kegiatan hunian.
 Kawasan terbangun, yang meliputi hampir 2/3 dan seluruh wilayah kota, cenderung membentang di bagian tengah kota dengan arah poros Utara - Selatan. Apabila dibandingkan dengan kondisi pada masa-masa sebelumnya, tampak terjadi perkembangan urban yang luar biasa ke arah Timur, daripada ke arah Barat. Perkembangan ke arah Timur ini distimulasi oleh konsentrasi lembaga pendidikan tinggi, perkembangan hunian massal, serta akses Tengah - Timur yang lebih lapang dibandingkan dengan akses Barat — Tengah.
Kecenderungan perubahan-perubahan fisik kota yang diamati saat ini pada dasarnya dapat dibagi dua, yaitu perubahan pemanfaatan lahan dan perubahan pemanfaatan bangunan. Perubahan pemanfaatan lahan di Kota Surabaya diindikasikan dan adanya perubahan dan lahan pertanian, tanah kosong, dan jalur hijau menjadi kawasan hunian serta perdagangan dan jasa.
Data tahun 1999 sampai tahun 2001 dan BPN Kota Surabaya menunjukan penggunaan lahan mengalami perubahan untuk kawasan terbangun terutama untuk permukiman, perdagangan dan industri. Lahan tak terbangun yang mengalami peningkatan berupa tanah kosong, hal ini terjadi karena adanya pemekaran Kota Surabaya di bagian timur yang di kenal dengan istilah tanah oloran. Sedangkan lahan tak terbangun yang mengalami penyempitan berupa sawah, hal ini terjadi karena lahan tersebut telah beralih fungsi menjadi kawasan terbangun seperti permukiman dan kegiatan komersial lainnya.
Penggunaan lahan sampai dengan tahun 2001 untuk kawasan terbangun mencapai 63% sedangkan sisanya merupakan kawasan tak terbangun meliputi sawah, tegalan, tambak dan tanah kosong. Tambak merupakan yang paling luas dibandingkan kawasan tak terbangun lainnya.

Kondisi tata ruang Kota Surabaya berdasarkan data dan BPN tahun 2001 dapat dikatakan tak terkendali bila di lihat dan proporsi antara kawasan terbangun dan tak terbangun 60 : 40. Selisih tersebut sangat signifikan, mengingat dalam kurun waktu yang relatif singkat pertumbuhan Kota Surabaya sangat cepat baik dan aspek spasial maupun non spasial di mana aspek satu dengan lainnya saling berkaitan. Untuk itu pengendalian pemanfaatan ruang lebih dini sangat diperlukan.

Kependudukan
Penduduk sebagai salah satu sumber daya pembangunan memegang peranan penting dalam pembangunan yaitu sebagai subyek / perilaku sekaligus sebagai obyek dari pembangunan.

Permukiman
Pola pengembangan permukiman di Kota Surabaya mengarah pada kawasan pinggiran, seperti di kawasan barat, timur, dan selatan kota dalam bentuk perumahan real estate. Sedangkan jenis permukiman-permukiman yang berada di tengah kota dalam bentuk perumahan-perumahan formal non perkampungan, yang di beberapa lokasi penggunaannya berubah menjadi perdagangan yang sedang menjadi trend di kota-kota besar yaitu FO (Factory Outlet), cafe, restoran, travel tour, dan sejenisnya. Kondisi perubahan fungsional ini banyak ditemui di sepanjang Jl. Kertajaya, Jl Raya Darmo, Jl. Raya Jemursari.

Transportasi Kota
Pola jaringan jalan utama di Surabaya pada dasarnya adalah berbentuk koridor linier yang menghubungkan kawasan utara dan selatan (Tanjung Perak-Waru). Namun saat ini telah terjadi pergeseran dan arah yang linier, cenderung berbentuk sistem radial-persegi panjang seiring dengan meningkatnya perkembangan pembangunan di kawasan barat-timur Surabaya seiring meningkatnya penggunaan jalan tol Surabaya-Malang.
 Salah satu masalah utama dalam sistem jaringan jalan di Kota Surabaya adalah bercampurbaurnya segala macam jenis kendaraan (mobil ringan, truk, sepeda motor, becak dll) serta berbagai macam aktifitas (parkir, pedagang kaki lima, pedestrian dll) semakin menambah beban dan sebagian besar jalan-jalan di Kota Surabaya, sehingga banyak jalan-jalan yang ada dalam Kota Surabaya, termasuk jalan-jalan utama di pusat kota yang telah mencapai nilai kapasitasnya. Fenomena seperti ini dapat ditemui di sepanjang jalan yang membelah kota dari Utara ke Selatan yaitu sepanjang jalan Demak, Jl.Ijen, Jl.Arjuno, Jl.Pasar Kembang, Jl.Diponegoro, Jl. Wonokromo, Jl. Ahmad Yani yang fungsi utamanya adalah Jalan Arteri Primer. Pada kenyataannya sepanjang jalan di atas telah mengalami banyak perubahan dengan penggunaan lahannya, sehingga sudah tidak layak menjadi jalan arteri primer lagi.
Sebagai sistem jaringan jalan peninggalan masa lalu, jaringan jalan di Kota Surabaya lebih dominan menghubungkan koridor Utara-Selatan Kota dan kurang mengantisipasi perkembangan yang terjadi pada koridor Barat-Timur Kota Surabaya. Akibat dari hal tersebut sudah mulai terasa saat ini di mana kurang memadainya jaringan jalan yang menyediakan akses Barat-Timur Kota Surabaya mengakibatkan lintasan rute perjalanan yang jauh untuk perjalanan dan Barat-Timur dan sebaliknya. Namun upaya untuk lebih mengembangkan akses barat-timur saat ini sudah mulai dikembangkan seiring dengan perkembangan kawasan Barat dan Timur Kota Surabaya.
Permasalahan lain yang berkaitan dengan sistem jaringan jalan yang ada di Kota Surabaya adalah tentang akses masuk dari Selatan dan Timur Kota Surabaya, yang secara dominan menghubungkan akses antara Kota Surabaya dengan kota terdekat secara langsung yaitu Sidoarjo dan beberapa kota-kota lain di Jawa Timur secara tidak langsung. Saat ini kawasan-kawasan ‘entry’ tersebut yang paling dominan menimbulkan masalah adalah pada Bundaran Waru. Bundaran Waru sebagai mata rantai antara Kota Surabaya dan Sidoarjo telah dirasakan sebagai titik penyebab kurang baiknya akses lalu lintas antara kedua kota tersebut. Kurang baiknya manajemen lalu lintas pada kawasan bundaran tersebut serta ditunjang dengan kondisi geometrik kawasannya sendiri yang kurang menguntungkan, ditengarai telah menjadikan Bundaran Waru sebagai penyebab terjadinya kemacetan di kawasan tersebut. Namun jika dilihat lebih lanjut sebenarnya ada beberapa hal pokok yang ikut menunjang terjadinya kemacetan pada kawasan timur dan selatan ini yaitu:
Sungai dan jalan kereta api di sebelah timur kota
Banyaknya persimpangan sebidang kereta api dan jalan raya, terutama di bagian selatan Kota Surabaya.
Kapasitas jalan masuk yang tidak sesuai dengan arus lalu lintas yang melewatinya.
Penerapan lalu lintas satu arah juga merupakan hal penting yang menentukan lancar atau tidaknya arus lalu tintas dalam satu jaringan. Arus lalu lintas satu arah di kawasan jalan Dharmahusada – Prof DR. Moestopo dan Airlangga telah direvisi ulang guna mengatasi permasalahan bertambahnya waktu penjalanan, tundaan dan panjang antrian yang cukup besar pada kawasan tersebut.

Ruang Terbuka Hijau
Perwujudan ruang terbuka hijau di Kota Surabaya berupa taman, taman bermain anak, lapangan olahraga, makam. Dari segi pemanfaatannya, ruang terbuka hijau di Kota Surabaya selain sebagai penyejuk dan elemen estetika lingkungan juga sebagian dimanfaatkan untuk sarana rekreasi dan olah raga baik pada skala lingkungan maupun kota (misalnya, taman-taman lingkungan di kawasan perumahan, Taman Bungkul, lapangan TOR, lapangan Brawijaya dan KBS). Jalur hijau di sepanjang Kali Mas terutama di wilayah Kecamatan Genteng dimanfaatkan pula untuk arena jogging track.
Pengelolaan ruang terbuka hijau di Kota Surabaya secara umum dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Dinas Pertamanan) dan oleh masyarakat serta swasta. Ruang terbuka hijau yang dikelola oleh Pemda berupa taman/jalur hijau, lapangan olahraga, dan makam sedangkan yang dikelola oleh masyarakat sebagian besar berupa taman-taman lingkungan dan lapangan olahraga serta makam dengan luasan tiap taman yang relatif kecil.

Tabel 4.2 Luas Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya

Sumber: Dinas Pertamanan Kota Surabaya

Gambaran Umum Perekonomian Kota Surabaya
Kontribusi Perekonomian Kota Surabaya Terhadap Perekonomian Jawa Timur dan Sekitarnya
Kontribusi perekonomian Kota Surabaya terhadap perekonomian Propinsi Jawa Timur mulai tahun 1998 sumbangan tersebut mengalami penurunan yang cukup drastis sehingga mencapai kontraksi sebesar 18.01 %. Tentunya dapat dimengerti pada itu perekonomian regional maupun nasional sedang dilanda krisis ekonomi. Namun demikian pada tahun berikutnya, yaitu tahun 1999 perlahan-lahan perekonomian bangkit sehingga pada tahun tersebut sumbangan PDRB Kota Surabaya meningkat hingga mencapai 21.83%.
Terhadap kawasan SWP I maka sumbangan PDRB Kota Surabaya adalah sebesar 53,04% pada tahun 1993 berturutturut mengalami kenaikan pada tahun selanjutnya 1994 hingga 1997 masingmasing sebesar 53,58% hingga 54,68%. Dengan kata lain bahwa lebih dari separuh pusat aktivitas ekonomi di kawasan Gerbangkertosusila bertumpu pada Kota Surabaya.
Adapun sumbangan SWP Gerbangkertosusila sendiri terhadap pembentukan PDRB Propinsi Jawa Timur pada periode tersebut bergerak pada kisaran 40% hingga 43%, kecuali pada tahun 1998 di mana pada saat kondisi makro ekonomi regional maupun nasional terpuruk pada kondisi resesi ekonomi. Dari data tersebut sepintas dapatlah dibuat suatu pemetaan bahwa distribusi PDRB atau pernerataan pembangunan ekonomi di Propinsi Jawa Timur masih belum metata. Hal ini tampak dari angkaangka tersebut bahwa dominasi sektor perekonornian pada 9 SWP di Jawa Timur hampir separuh disumbang oleh SWP I atau kotakota di kawasan Gerbangkertosusila.

Level dan Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator ekonomi yang menentukan terhadap masingmasing sektor produksi di masa depan. Perkembangan level dan pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya dapat dilihat pada kinerja laju pertumbuhan PDRB Kota Surabaya.

Dalam kurun 2 tahun terakhir (1999 dan 2000), ekonomi sektoral tumbuh sebesar 1,09 %, 21 %. Pertumbuhan 3,21 % ini lebih banyak disumbang oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran yang tumbuh sebesar 5,27 %. Sumbangan terbesar benkutnya adalah sektor perangkutan, dan komunikasi yang tumbuh sebesar 7,14 % dan sektor listrik, gas, dan air bersih tumbuh sebesar 12,71 %.
Pada tahun 2000 ini perekonomian Kota Surabaya menunjukkan pertumbuhan yang positif, kecuali sektor pertambangan dan penggalian, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang masih mengalami kontraksi.
Pendapatan Regional Per kapita
Pada umumnya indikator pendapatan regional per kapita disajikan atas dasar harga berlaku, dengan konsekuensi bahwa data tersebut masih mengandung faktor inflasi. Pendapat regional kapita penduduk Kota Surabaya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Adanya krisis moneter yang merupakan pendorong inflasi merupakan salah satu penyebab terjadinya fenomena di atas. Perkembangan pendapatan per kapita ini pun menunjukkan indikasi negatif terhadap pembangunan kota yang menekankan pada peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat.
Berdasarkan data yang lainnya, dapat diketahui bahwa masih terdapat 0,03 % rumah tangga di Kota Surabaya yang berpendapatan kurang dari Rp. 100.000, dalam sebulan. Meskipun di lain pihak terdapat 23,68 % berpendapatan lebih dari Rp. 1.000.000, dalam satu bulan. Kelompok distribusi rumah tangga yang paling besar kedua adalah pada kelompok rumah tangga yang berpendapatan antara Rp 400.000, sampai Rp 499.000, perbulan yang mencapai angka 13,01% dari total rumah tangga di Kota Surabaya. Sedangkan secara perwilayahan kota maka wilayah Surabaya Selatan dan Surabaya Timur merupakan wilayah yang paling banyak terdapat rumah tangga yang berpendapatan lebih dari Rp 1.000.000, dalam satu bulan, masingmasing sebesar 25,77% dan 25,07%. Secara umum pendapatan perkapita penduduk Kota Surabaya terbesar dicapai oleh kelompok Rp 125.000, sampai dengan Rp 149.999, per bulan sejumlah 12,75%. Prosentase penduduk yang memiliki pendapatan perkapita kurang dari Rp 50.000,- masih tidak lebih dari 0,18%. Sedangkan kelompok yang berpendapatan perkapita mencapai Rp 350.000 ke atas telah mencapai jumlah 15,39%.
Untuk menentukan level ketimpangan pendapatan penduduk, Bank Dunia menetapkan formulasi berupa; jika 40% penduduk berpendapatan terendah total pendapatannya kurang dari 12% dari seluruh jumlah pendapatan penduduk, maka dikatakan ada ketimpangan tinggi di wilayah tersebut. Apabila jumlah tersebut berkisar antara 12% s/d 17% dikategorikan sebagai ketimpangan sedang. Dengan demikian bila jumlah pendapatan 40% penduduk berpendapatan terendah adalah sama atau lebih besar dari 17% maka dlikatakan bahwa tingkat ketimpangannya rendah.
Secara umum dapat dikatakan bahwa distribusi pendapatan penduduk Kota Surabaya dapat dikatakan mempunyai ketimpangan rendah karena 40% penduduk yang berpendapatan rendah mencapai 20,88% dari total pendapatan penduduknya. Lebih dalam diamati per wilayah, maka wilayah Surabaya Selatan adalah yang terendah yaitu hanya sebesar 18,03% dan yang tertinggi ialah wilayah Surabaya Utara yaitu sebesar 23,62%. Dengan demikian menurut Bank Dunia Surabaya termasuk memiliki distribusi pendapatan kategori ketimpangan rendah.
Bila dilihat dari Koefisien Gini (Gini Ratio) terlihat bahwa Surabaya mempunyai tingkat ketimpangan sedang yaitu sebesar 0,32. Ketimpangan pendapatan terendah berada di wilayah Surabaya Utara 0,27 dan yang tertinggi di Surabaya Barat dengan koefisien Gini 0,35 dan Surabaya Selatan 0,34.
Pergeseran Struktural Perekonomian Kota
Struktur ekonomi Kota Surabaya menunjukkan bahwa sektor primer hampir tidak memberikan peranannya sama sekali (hanya sekitar 0,2%  0,22%), dan sektor sekunder yang terdiri dan sektor industri pengolahan, listrik, gas, dan air bersih, dan konstruksi pada tahun 2000 ini menunjukkan penurunan peranannya. Untuk sektor tersier yang terdiri dari sektor perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasajasa menunjukkan adanya peningkatan peranannya. Penurunan aktivitas produksi sektor sekunder ini terjadi pada sektor industri pengolahan. Hal ini dapat diduga bahwa telah terjadi kejenuhan perkembangan bagi perindustrian Kota Surabaya sehingga diperlukan alternatif lain untuk menggairahkan pertumbuhan ekonomi kota maupun sektor tersebut. Sektor yang mempunyai kontribusi terbesar kedua adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Perkembangan sektor produksi ini mengalami peningkatan yang terus menerus minimal dalam kurun 3 tahun terakhir. Fenomena yang menggembirakan ini terlebih terjadi pada masa krisis di mana hampir semua sektor produksi mengalami penurunan atau fluktuasi yang belum memperlihatkan pola perkembangan yang meningkat.
















Gambar 4.4.
Pergeseran Struktural Perekonomian Kota



Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Surabaya
Tinjauan PDRB Kota Surabaya secara agregat
Perkembangan PDRB secara agregat di Kota Surabaya menunjukkan suatu fenomena tingginya tingkat inflasi yang terjadi terutama pada saatsaat krisis moneter di Indonesia. Perkembangan PDRB secara agregat melalui harga berlaku menunjukkan adanya peningkatan dari tahun 1995 hingga tahun 2000. Kondisi ini sangatlah berbeda dengan penilaian perkembangan PDRB secara agregat melalui harga konstan. Perkembangan dengan cara penilaian tersebut memberikan gambaran adanya penurunan yang sangat signifikan bagi perekonomian Kota Surabaya maupun SWP Gerbangkertosusila atau bahkan Propinsi Jawa Timur. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.5 di bawah ini.









Sumber BPS Surabaya, 2000
GAMBAR 4.5
Tinjauan PDRB Kota Surabaya Secara Agregat

PDRB Kota Surabaya Pada Masingmasing Sektor Produksi
Aktivitas perekonomian Kota Surabaya yang tampak maju pesat dapat dilihat dari seberapa kontribusi sektor tersebut pada pembentukan PDRB. Bila disimak dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, yaitu tahun 1995 hingga tahun 1999 telah tampak bahwa dalam periode tersebut PDRB Kota Surabaya terjadi peningkatan ratarata pertahun sebesar 0,08%. Sebenarnya pertumbuhan per tahun PDRB selama kurun waktu tersebut cukup bervariasi, di mana pertumbuhan tertinggi dicapai pada periode 19951996 dengan mencapai angka 10,50% dan terendah khususnya ketika terjadi krisis ekonomi tahun 19971998 yang mencapai angka minus 18,01%.
Bila dirinci dalam kelompok sektoral primer, sekunder, dan tersier, maka kelompok sektor primer, yaitu pertanian dan pertambangan/penggalian hanya memberikan kontribusi yang semakin lama semakin kecil, bahkan ratarata dalam lima tahun terakhir tidak lebih dari 0,50% dari PDRB Kota Surabaya. Hal ini semakin memperkuat indikasi bahwa Kota Surabaya hampir tertutup bagi lahan ladang dan pertanian dalam waktu tidak lama lagi, maupun tenaga kerja yang bergerak dalam sektorsektor tersebut. Apalagi bila disimak bahwa dalam lima tahun terakhir pertumbuhan kedua sektor tersebut cenderung menurun hingga mencapai angka ratarata masingmasing 24,94% dan 26,69%.
Kondisi tersebut tampaknya bertolak belakang dengan sektor sekunder yang lebih bergairah dan kondusif terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya. Sektorsektor tersebut di antaranya adalah sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas, air bersih, serta sektor bangunan (konstruksi). Ketiga sektor tersebut telah menyumbangkan hampir separuh PDRB Kota Surabaya tepatnya 435,62%. Sektor yang paling dominan yaitu sektor industri pengolahan yang memberikan sumbangan sepertiga aktivitas perekonomian Kota Surabaya, yaitu sebesar 33,20%. Adapun sektor konstruksi dan listrik, gas, air bersih masingmasing sebesar 9,83% dan 2,59%. Dalam masa mendatang sektor sekunder diharapkan akan menjadi "tulang punggung” dari perekonomian Kota Surabaya mengingat kecenderungan kontribusi terhadap PDRB dan jumlah tenaga kerja di sektor tersebut yang terusmenerus meningkat.
Sedangkan sektor tersier yang terdiri dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran; sektor angkutan dan komunikasi; sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan; seerta sektor jasa jasa merupakan sektorsektor yang memberikan sumbangan terbesar bagi PDRB Kota Surabaya. Meskipun demikian bila dilihat dari kegiatan sektoral tampaknya didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai angka seperempat bagian dari besamya PDRB. Sedangkan ketiga sektor lainnya berturutturut menyumbangkan 12,02% ; 9,39% dan 6,62% pada PDRB Kota Surabaya.
Analisa perkembangan untuk masingmasing sector dapat melihat pada tiga komponen terkait dengan PDRB sektoral. 3 kriteria tersebut adalah besar PDRB, laju, dan kontribusinya. Jika dilihat dari besar PDRB pada masingmasing sektor, perkembangan menunjukkan bahwa sektor perindustrian dan perdagangan, restoran dan hotel memiliki perkembangan yang sangat signifikan. Kedua sektor ini terlihat masih merupakan leading sektor bagi perekonomian Kota Surabaya. Bila dilihat secara jeli, sektor perdagangan, restoran, dan hotel memiliki kenderungan untuk melewati nilai PDRB bagi sektor industri. Secara lebih lengkap dapat dilihat pada gambar 4.6 di bawah ini.










Sumber BPS Kota Surabaya, 2001
GAMBAR 4.6
Perkembangan PDRB Kota Surabaya Menurut Sektor Produksi Berdasarkan harga Konstan Tahun 1995-2000

Perkembangan peranan masing-masing sektor terhadap PDRB Kota Surabaya dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.








Tabel 4.3
Nilai Peranan Masing-Masing Sektor Terhadap Perkembangan PDRB Kota Surabaya Pada Tahun 1995 – 2000

No comments:

Post a Comment

For yout correction, write your comment in here. Thank you.
(Tulislah komentar anda di sini untuk perbaikan. Terima kasih)

KULIAH